LIMA HAMBATAN MENULIS SKRIPSI DAN CARA MENGATASINYA

Pengalaman beberapa tahun menjadi pengelola program studi membuat saya harus selalu berhadapan dengan masalah klasik mahasiswa, yaitu skripsi. Hampir sebagian besar problem mahasiswa tingkat akhir adalah lambatnya penyelesaian skripsi.

Dalam banyak kasus yang saya temui, setidaknya ada 5 hambatan yang dirasakan oleh mahasiswa dalam menulis skripsinya. Tulisan ini hasil ringkasan dari buku lain yang penulis siapkan untuk mahasiswa dalam menulis proposal skripsi. Berikut penjelasan hambatan-hambatan tersebut dan cara mengatasinya.

1.Hambatan Persepsi

Faktor pertama yang menghambat penulisan proposal skripsi adalah adanya hambatan persepsi. Salah satu bentuk yang paling umum ditemukan adalah mahasiswa tidak memahami apa artinya menulis. Maksudnya adalah mahasiswa tidak paham dengan jelas apa sebenarnya yang dimaksud dengan menulis.

Kebanyakan kasus yang kami temui di lapangan yaitu mahasiswa terjebak dengan konsep menulis yang salah. Menulis dalam pandangan sebagian besar mahasiswa dipahami sebagai aktivitas mengerjakan tugas dalam aktivitas perkuliahan baik berupa makalah, ringkasan, artikel, dan yang sejenisnya.

Hasilnya adalah dokumen tulisan yang dikumpul pada dosen di kelas sebagai persyaratan untuk mendapatkan nilai skor dalam sebuah maa kuliah. Namun jika ditelusuri bagaimanakah caranya mahasiswa bisa menghasilkan tulisan tersebut ternyata sebagian besarnya adalah copy paste.

Kebanyakan di antara mereka banyak sekedar mencari (searching) beberapa tulisan yang sudah jadi di internet yang temanya mirip atau relevan kemudian mereka gabung menjadi satu tulisan baru. Tapi tulisan baru itu hanyalah potongan paragraf-paragraf dari beberapa tulisan yang diramu jadi tulisan mereka.

Bahkan lebih fatal lagi ada yang mengambil satu tulisan utuh milik orang lain di internet kemudian diganti nama penulisnya dengan nama mahasiswa yang bersangkutan. Tujuannya biar cepat selesai tugas dan yang penting segera bisa dikumpul pada dosen pengampunya di kelas.

Mahasiswa mesti memahami bahwa menulis seperti yang demikian bukanlah menulis yang sebenarnya. Secara sederhana namun ideal, menulis dapat dipahami sebagai aktivitas menceritakan kembali apa yang sudah dipahami oleh penulis dalam bentuk kumpulan paragraf kepada orang lain sehingga bisa dipahami oleh pembaca sebagaimana yang dimaksud oleh si penulis.

Implikasi dari kegiatan menulis adalah si penulis harus memahami apa yang akan dia tulis. Sebab jika dia tidak paham apa yang dia tulis bagaimana bisa menceritakan maksudnya kepada para pembaca. Maka, ulisan copy paste sebenarnya bukanlah hasil kegiatan menulis karena bisa jadi si pembuatnya pun tidak paham apa yang dia maksud dalam tulisannya.

Solusinya adalah: memahami terlebih dahulu, baik memahami obyek, teori ataupun metode risetnya. Ini penting, agar mahasiswa punya stok bahan yang bisa diceritakan pada pembaca. Kalau tidak bisa cara menuliskannya maka itu adalah masalah teknis yaitu tidak terampil menuliskan apa yang sudah dipahami. Ini akan kita bahas berikutnya.

2. Hambatan Keterampilan

Meskipun sebagian besar kita sudah belajar menulis sejak sekolah dasar, keterampilan mahasiswa tidak terasah dengan cukup baik. Kebanyakan orang belajar keterampilan berbahasa bersifat normatif. Artinya, hanya sekedar memenuhi persyaratan minimal pembelajaran di ruang kelas.

Keterampilan menulis termasuk aspek yang kurang dilatih secara intensif. Ini dapat kita simpulkan lewat berapa banyak hasil karya tulis yang dihasilkan dalam pembelajaran menulis selama mereka sekolah. Penyebab lainnya juga adalah budaya kita yang lebih cenderung mengutamakan aspek berbicara dan mendengar ketimbang mengungkapkan pikiran dalam bentuk tulisan.

Selain itu, di era multimedia banyak orang cenderung lebih mengeksplorasi aspek visual dalam media sosial dibandingkan penjelasan naratif. Kalaupun ada, tidak terlalu banyak yang berminat dan tertarik untuk mendalaminya. Akibatnya kemampuan menulis menjadi tidak terbimbing dengan semestinya.

Solusinya: sangat disarankan kepada mahasiswa untuk melatih mengemukakan hasil pengamatannya secara tertulis mulai dari hal-hal yang sederhana dan dekat dengan mereka. Misalnya, berlatih menceritakan diri mereka sendiri dalam bahasa tulisan. Kemudian meningkat dengan belajar menuliskan obyek atau pengalaman tertentu.

Menulis tulisan ilmiah juga bisa dilatih. Mulailah membiasakan menulis sendiri  tugas-tugas kuliah. Jika Anda tidak tahu tentang sesuatu, jangan langsung “lompat” mencari tulisan orang lain untuk “dipotong-potong” dan “digabung-gabung” paragrafnya. Carilah referensi, pahami, kutiplah lalu tulislah dengan bahasa kita sendiri apa yang kita pahami dari referensi tersebut. Ini bisa juga dilakukan dengan meringkas tulisan orang lain lalu menuliskan dengan bahasa kita sendiri.

3. Hambatan Motivasi

Kendala lain yang juga yang sering dirasakan mahasiswa dalam menyusun skripsi adalah masalah motivasi terkait seberapa banyak waktu yang dia habiskan untuk menyelesaikan skripsinya. Proses skripsi umumnya melibatkan minimal dua semester untuk menuntaskannya. Bahkan ada yang memerlukan waktu 3 tahun untuk selesai skripsinya.

Sepanjang itu, banyak kejadian yang sangat mungkin terjadi. Sebagian mahasiswa melaluinya dengan sambil bekerja paruh waktu. Ada pula yang melangsungkan pernikahan dan punya anak. Semua itu sangat mempengaruhi motivasi seseorang menyelesaikan skripsinya. Tentu beban mengurus diri sendiri sambil mengurus orang lain akan berbeda bobotnya.

Berdasarkan pengalaman kami membimbing skripsi, solusi yang saya sarankan untuk membangun motivasi yang relatif terjaga adalah dengan menyusun jadwal penyelesaian skripsi mereka secara sistematis dengan mempertimbangkan kegiatan akademik di kampus. Ini menjadi semacam strategi yang agak rigid agar bisa konsisten dengan waktu yang telah disusun.

Sebagai contoh di kampus FEB Unmul kami menyarankan mahasiswa  untuk memulai mengerjakan skripsi sejak semester 5 yaitu mereka mengambil mata kuliah metodologi penelitian manajemen (September-Desember 2019). Mahasiswa angkatan 2017 sudah diminta untuk membuat proposal mini dalam tugas perkuliahan di kelas.

Saat itu mahasiswa juga sudah dibagi dosen pembimbing (DP) skripsi dan diarahkan untuk berkonsultasi untuk persetujuan judul proposal mereka. Proposal mini biasanya dikembangkan dengan menyusun semacam outline atau garis besar proposal.

Outline akan lebih bagus jika sudah mempertimbangkan format standar penulisan proposal yang biasanya sudah diinformasikan kepada mahasiswa lewat panduan penyusunan skripsi fakultas. Mahasiswa cukup menyesuaikan kontennya dengan variabel penelitian yang dipilih dalam proposalnya.

Setelah outline-nya jadi, mahasiswa tinggal menambahkan sedikit bagian-bagian penjelas atas poin-poin yang ada dalam outline-nya. Sehingga pembaca terutama dosen pembimbing dan pengampu mata kuliah metodologi penelitian bisa menilai bahwa mahasiswa sudah memiliki gambaran ringkas namun memadai terkait apa yang akan ditulis dalam skripsinya.

Saat semester 6 mahasiswa yang mengambil mata kuliah seminar konsentrasi dapat menyusun proposal lengkap mereka. Hal ini harus mereka untuk terus berkonsultasi dengan pembimbing mereka sampai proposal mereka disetujui.  Kemudian mereka juga  “diwajibkan” untuk sudah melakukan ujian seminar proposal selambat-lambatnya akhir semester enam (Juni 2020).

Ini penting sebab berdasarkan pengalaman, jika mahasiswa diarahkan seminar proposal setelah kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di bulan Juli dan Agustus biasanya mereka akan molor hingga ke akhir tahun. Bahkan banyak pula yang baru kembali mengerjakan di awal tahun berikutnya. Biasanya ini diakibatkan efek lama di lokasi KKN berujung pada pemulihan semangat untuk mulai menulis yang cukup menghambat mahasiswa.

Pada bulan September 2020 ketika kembali ke kampus mereka bisa langsung melakukan pengambilan data lapangan. Kemudian menulis bab 4 dan 5 selama dua bulan dirasa cukup bagi mahasiswa di bulan Oktober hingga Nopember 2020. Selanjutnya mereka bisa berkonsultasi dengan dosen pembimbing selama Desember 2020 hingga Februari 2021. Harapannya, di bulan Maret 2021 sudah disetujui oleh DP dan dilakukan ujian seminar hasil di bulan itu juga.

Ujian pendadaran bisa dilakukan pada bulan April 2021 dan setelah itu mendaftar untuk wisuda di bulan Juni 2021. Dengan cara ini, mahasiswa bisa menyelesaikan studinya di kampus tepat waktu yaitu empat tahun bahkan kurang. Pengalaman kami, banyak pula mahasiswa yang bisa menuntaskan hanya dalam waktu 3,5 tahun.

Saran lainnya adalah: pastikan secepat mungkin Anda sudah melaksanakan seminar proposal pada saat sebelum KKN. Sebab itu akan menjadi kendali pertama dalam menuntaskan skripsi. Selain itu buatlah bersama-sama misal melakukan riset 2-3 orang di lokasi yang sama. Selain efisien juga bisa saling menguatkan semangat satu sama lain. Kemudian, pilih obyek yang mudah diakses dan lokasinya terjangkau. Jangan lupa, bangun hubungan baik dengan dosen pembimbing karena merekalah yang akan mendampingi Anda sepanjang proses skripsi. Terakhir, dukungan doa dari orang terdekat akan sangat membantu terutama orang tua Anda.

4. Hambatan Metodologis

Permasalahan lainnya yang juga mengambat penulisan skripsi adalah pemahaman metodologi riset itu sendiri. Skripsi hakikatnya adalah produk penelitian. Mahasiswa yang tidak memahami proses riset akan mengalami kesulitan mengembangkan tulisan dalam proposal skripsinya.

Banyak ditemukan mahasiswa yang tidak kunjung menulis skripsinya karena memang tidak paham apa yang akan dilakukannya dalam kegiatan riset. Menulis skripsi adalah mendesain dan menceritakan langkah-langkah sistematis yang akan dikerjakan mahasiswa dalam penelitiannya berikut hasil-hasil yanh didapatkan dalam kegiatan riset tersebut.

Secara sederhana, penelitian pada intinya adalah proses mencari solusi atas permasalahan dalam obyek tertentu dengan pendekatan ilmiah. Proses ini diawali dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan untuk memberikan rekomendasi baik secara teoritis maupun praktik manajerial.

Salah satu yang paling banyak saya temukan yaitu kekeliruan metodologis di kalangan mahasiswa yang mengawali riset dengan membuat model atau hipotesis. Padahal riset bertujuan mencari solusi atas masalah. Jadi harusnya yang pertama kali dicari adalah masalahnya dulu. Masalah merupakan kesenjangan atau gap yang terjadi di obyek penelitian.

Kesenjangan hanya bisa ditemukan saat mahasiswa berinteraksi dengan kondisi lapangan. Mahasiswa seringkali tidak pernah datang ke lokasi penelitian tapi sudah duluan membuat model yang sebenarnya merupakan solusi dari masalah penelitian. Padahal belum tentu itu yang terjadi di obyek penelitiannya.

Demikian pula banyak ditemukan kesalahan dalam aspek-aspek lain dalam penelitian seperti: kajian pustaka, hipotesis,  populasi sampel, alat analisis, pebuatan kuesioner, pembahasan, serta kesimpulan dan saran. Semua ini sangat terkati dengan kepahaman tentang metodologi penelitian.

Oleh karena itu, solusinya adalah: sebaiknya mahasiswa banyak melakukan observasi lapangan untuk menggali masalah apa yang terjadi kemudian banyak membaca referensi metode riset dan berkonsultasi secara intensif dengan dosen metodologi penelitian mereka di kelas.

Hal ini penting agar mereka tidak terjebak dengan mencontoh skripsi-skripsi yang ditulis oleh kakak tingkat mereka yang bisa jadi karena proses keteledoran atau ketidaksengajaan terlanjur salah namun dijadikan referensi dalam penyusunan proposal mereka.  Dampaknya jadi keliru berjamaah.

5. Hambatan Referensi

Sebagian besar yang ditulis dalam skripsi adalah teori-teori ataupun hasil penelitian yang tertuang dalam banyak literatur. Mahasiswa yang jarang membaca atau mengakses sumber-sumber pengetahuan yang ada di buku teks ataupun jurnal penelatian dapat dipastikan akan mengalami kesulitan besar untuk membuat proposal skripsinya.

Banyak kasus yang ditemukan mahasiswa lebih cenderung memilih jalan pintas yaitu dengan meng-kloning dokumen skripsi miliki orang lain yang ada di internet lalu mengambil langsung kutipan-kutipan yang ada di skripsi orang lain tersebut tanpa merujuk referensi primer yang ada.

Jika ini dilakukan oleh mahasiswa, maka dampaknya ialah sangat mudah terjebak dalam praktik plagiasi. Plagiasi biasanya dilakukan mahasiswa dengan mengambil secara “kasar” sebagian atau keseluruhan pendapat orang lain berupa kalimat atau paragraf dengan mengakuinya sebagai pendapat pribadi mereka.

Padahal sebenarnya jika mahasiswa agak sabar sedikit untuk belajar mengutip dengan benar maka mereka akan memiliki keterampilan mengutip referensi orang lain dengan benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Solusinya adalah: dengan merujuk langsung ke referensi primer. Artinya membaca langsung buku teks atau artikel yang relevan dengan tema penelitiannya dan bukan lewat skripsi orang lain.

Karena itu, mahasiswa mesti akrab dengan sumber-sumber referensi yang mereka butuhkan.Pertanyaanya berikutnya di mana mencari literatur yang cukup banyak tersebut? Di era internet saat ini semuanya tersedia online. Mahasiswa tinggal mengakses di Google dan akan menemukan banyak sekali referensi yang dibutuhkan.

Demikian pula dengan artikel penelitian, saat ini banyak penyedia jurnal yang bisa diakses secara gratis. Tinggal mendaftar dan selanjutnya bisa mengakses penuh ribuan artikel baik dalam maupun luar negeri lewat internet.  Google Scholar menyediakan banyak referensi tentang artikel penelitian yang bisa didownload gratis.

Selain itu, penyedia jurnal gratis seperti Researchgate, Academia, Sinta dan lain sebagainya sangat mudah diakses bagi mahasiswa asal ada kemauan untuk duduk lama dan kuota internet yang cukup maka seharusnya masalah referensi tidak perlu dikhawatirkan. Selamat mencoba.

Robiansyah

1 komentar untuk “LIMA HAMBATAN MENULIS SKRIPSI DAN CARA MENGATASINYA”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *