“Menulislah, walaupun saat ini tidak ada yang membacanya. Jika yang ditulis itu berisi kebenaran, ada masanya dia akan tampak juga dan bermanfaat bagi banyak orang” (Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Cendekiawan dan Filosof Muslim dari Malaysia)
Nasehat di atas saya dapatkan dari Ust Dr. Muhammad Ardiansyah di sebuah grup WA. Kata beliau, itulah nasehat diberikan Prof. Al Attas kepada murid senior beliau yaitu Prof Wan Mohd Nor Wan Daud. Pakar dan pegiat Islamisasi Ilmu dari negeri Jiran Malaysia dan pengarang buku Budaya Ilmu.
Membaca nasehat beliau di atas membuat saya sangat termotivasi. Bagaimana tidak? Salah satu yang membuat saya kadang “malas” menulis yaitu ada semacam perasaan kalau sepertinya yang saya tulis kurang bermanfaat bagi pembaca. Ukurannya sederhana yaitu jumlah like, comment, dan share di FB.
Memang itulah ujian keikhlasan dalam menulis. Kita menulis bukan semata-mata untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Namun lebih dari itu, yaitu untuk menyebarkan ilmu sehingga bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain dan mendorong orang lain untuk berbuat kebaikan lewat tulisan kita.
Ketika kita membaca tulisan orang lain yang menginspirasi kita, ada semacam keinginan kuat dalam diri kita juga bisa menulis seperti mereka. Setidaknya itulah yang sering saya rasakan dan banyak orang juga merasakannya. Termasuk dalam grup WA yang saya ceritakan di atas ada juga kawan yang ingin menulis.
Dalam banyak kasus yang saya temukan, berdasarkan pengalaman pribadi juga, seringkali keinginan tersebut tidak kunjung tercapai hingga bertahun-tahun lamanya. Mengapa? Karena tidak pernah di tulis apa yang ingin di tulis. Itulah juga yang saya rasakan saat mulai awal-awal menulis.
Dulu saya pernah bertanya dengan Pak Cahyadi Takariawan, seorang pakar keluarga dan penulis buku terkenal dari Jogja saat mengantarkan beliau jalan-jalan menikmati kota Samarinda belasan tahun yang silam. Pak Cah, apa kiatnya Bapak bisa produktif menulis banyak buku seperti sekarang ini?
Beliau hanya menjawab singkat, “Ya menulis saja”. Maksudnya Pak? “Langsung menulis saja”, kata beliau. Saya simpulkan waktu itu persoalan teknis tentang cara menulis sebenarnya cuma masalah sekunder. Namun problem mendasarnya adalah kita tidak mulai-mulai juga menulisnya.
Sebenarnya sudah sejak kuliah S2 tahun 2008-2009 saya mulai menulis di blog. Ada beberapa tulisan yang posting di blog itu. Sebagian besar isinya tentang pengalaman selama kuliah dan tinggal di Jogja. Saya share tulisan ke beberapa kawan dekat dan mereka mengatakan isinya lumayan bagus.
Sudah sejak lama saya memimpikan bisa menulis buku namun bertahun-tahun lamanya tidak kesampaian juga. Pernah mencoba menulis buku ajar perguruan tinggi untuk modul mengajar mahasiswa di kelas namun selalu mentok sampai bab 3 dan tidak selesai-selesai juga sampai sekarang.
Akhirnya saya menulis yang sederhana. Saya coba keluar dari jalur mainstream. Buku pertama yang saya tulis justru tentang doa. Judulnya 40 Doa Pilihan dalam Al Quran: Munajat Para Nabi dan Rasul. Buku itu kemudiaan saya cetak beberapa eksemplar namun tidak saya publikasikan dulu. Maklum belum pede.
Hingga akhirnya tahun 2018 saya mendapat berkah luar biasa. Saya ditakdirkan Allah swt untuk menyendiri sementara waktu dari keramaian. Meninggalkan kesibukan pekerjaan dan aktivitas yang lain kemudian lebih fokus melakukan kontemplasi pribadi dan penyembuhan kondisi personal dahulu.
Di saat-saat itulah saya menemukan fokus untuk menceritakan banyak sekali lintasan-lintasan yang selama ini berseliweran di pikiran saya dalam bentuk tulisan. Entah itu buku-buku yang saya pernah baca, pengalaman-pengalaman hidup, maupun nasehat-nasehat yang pernah saya terima.
Semuanya saya tulisankan secara berseri lewat blog, kemudian di facebook, dan bahkan saya sempat membeli domain website untuk menuliskan berbagai pemikiran dan perenungan yang saya alami ketika itu. Hasilnya, lumayan banyak tulisan-tulisan pendek yang bisa saya buat di media-media online.
Ide mengumpulkannya jadi buku sebenarnya datang dari kawan-kawan yang pernah membaca beberapa tulisan-tulisan yang saya posting di internet. Tidak sedikit yang mendapatkan inspirasi dalam artikel yang saya tulis. Termasuk Bu Ariesta rekan saya di jurusan manajemen yang menyarankan agar itu dibukukan.
Akhirnya setelah mengumpulkan banyak artikel yang tersebar di beberapa media, saya pilah dan edit sedemikian rupa jadilah 3 buku yang siap cetak. Buku itu adalah: 40 Doa dalam Al Quran. Ini draft buku lama yang sebelumnya pernah saya cetak dan akhirnya saya putuskan untuk diterbitkan.
Kedua,judulnya Kembali ke Jalan yang Benar, dan yang ketigaTotally Completed. Semuanya terbit bersamaan di akhir tahun 2020 kemarin berkat jasa kenalan seorang kawan di sebuah penerbit yang bersedia membantu saya mengedit, membuat cover dan kemudian mempublikasikannya.
Di masa pandemik tahun 2020, aktivitas menulis saya semakin meningkat. Kebijakan WFH memungkinkan saya punya banyak waktu duduk ,merenung, dan menuliskan banyak hal. Ada dua buku yang saya kerjakan waktu itu. Alhamdulillah, keduanya bisa saya rampungkan di akhir tahun 2020 juga.
Pada awal tahun 2021 terbit dua buku tersebut. Pertama berjudul Manajemen Insan Produktif: Strategi Sukses dalam Belajar, Karir, dan Kepemimpinan. Kedua, bukunya berjudul Mudah dan Praktis Menulis Proposal Skripsi Manajemen SDM. Buku ketiga ini saya tulis bersama dengan mahasiswa saya.
Terus terang belum banyak karya berbentuk buku yang telah saya hasilkan. Namun, dari kisah saya di atas saya belajar tentang beberapa hal. Pertama, yaitu bahwa sebagaimana nasehat Pah Cah pada saya yaitu intinya menulis saja. Mesti ada kegiatan menulis setiap waktu agar bisa berujung pada buku.
Kedua, menulis bagi saya sangat efektif tatkala nuansanya bersifat personal yaitu ada pengalaman pribadi yang kemudian bisa diceritakan dalam bentuk tertulis. Beberapa tulisan yang saya buat memang bersumber dari beragam perjalanan hidup yang pernah saya alami selama ini.
Ketiga, akumulasi ilmu akan semakin bermanfaat jika dibagikan pada orang lain. Saya telah membaca banyak buku dengan berbagai tema. Jika hitung-hitung mungkin sudah seribuan lebih buku yang pernah saya baca. Semuanya tersimpan dalam memori dan mestinya bisa dikeluarkan dalam bentuk tulisan.
Ketika saya menuliskan apa yang pernah saya pelajari kemudian dibaca orang lain, saya merasakan respon yang Alhamdulillah hampir semuanya positif. Ini menandakan bahwa ilmu menjadi semakin berguna saat kita mampu mentransfernya kepada orang lain. Tidak semata disimpan sendiri.
Robiansyah, 9 April 2021
